Kamis, 02 Februari 2012

antara SIAK- Jakarta

The Teacher’s Journey

20 jan- 26 jan 2012

Hidup kita adalah sebuah perjalanan
Yang merangkaikan cerita satu dengan lainnya
Selama nafas masih diraga... kita akan terus berjalan
Dan kan terhenti...saatnya tiba nanti....

 Tentang Perjalanan Siak - Jakarta
Awalnya saya fikir informasi perjalanan ke jakarta ini hanya ‘penghibur hati’, sebuah cita-cita yang entah kapan terwujud. Karena memberangkatkan seluruh guru bukanlah hal yang mudah dan murah. Namun ternyata Allah memberikan kuasanya dengan mengijinkan kepergian kami ke jakarta. Walau pernah tinggal di sana namun saya merasa bahwa kepergian ini ‘berbeda’ karena saya akan memegang amanah untuk meningkatkan wawasan sebagai guru. Untuk itu saya ingin perjalanan ini membawa makna yang luas. Awalnya saya ingin membawa si kecil yang berumur 1 tahun, namun mengingat padatnya agenda dan keinginan untuk menyerap informasi dan pengetahuan dari tempat-tempat yang dikunjungi agar lebih maksimal. Akhirnya si kecil tinggal di rumah dengan ayahnya. Sebagai istri meminta ijin dari suami adalah hal utama, keikhlasannya memegang sektor rumah tangga selama saya pergi, benar-benar membuat langkah saya lebih ringan. Beliau mendukung saya untuk bertanggung jawab terhadap peran saya yang lain sebagai guru dan karyawan. Saya sangat bersyukur, beliau paham bahwa kepergian saya ke jakarta adalah satu rangkaian tugas mulia sebagai pendidik.
Untuk itu saya harus bertanggung jawab penuh dengan perjalanan ini, harapan dan keinginan dari manajemen sekolah demi meningkatnya wawasan kami. Dan dukungan fasilitas dari yayasan adalah amanah yang harus saya pertanggungjawabkan pada Allah kelak. Serta keridloan suami sebagai pendukung utama telah membukakan awal langkah yang penuh berkah.
So, …..Bismillah kami mulai perjalanan ini……

 Senja di Bandara Syarif Qasim Pekanbaru
Menjelang sore hari Bus yang membawa rombongan kami dari siak tiba di Bandara Syarif Kasim Pekanbaru. Menyusul kemudian dua mobil rombongan dan Pak rasyid. Karena rombongan, maka untuk chek in diwakili oleh bapak-bapak. Kami harus sabar menunggu di depan pintu masuk. Kebersamaan mulai kami rasakan disini, bahwa kami akan melalui beberapa hari ke depan bersama. Walau gurat kelelahan terpancar di wajah teman-teman, tapi candaan terus menghiasi sehingga mengusir jenuh menunggu antrian chek in.
Bandara Syarif Kasim ini dahulu bernama Bandara Simpang Tiga, memiliki luas 321, 21 ha. Dalam rangka menyambut PON XVII pada 2012, bandara sedang diperlaus hingga bisa menampung pesawat yang lebih besar dan akan menjadi home base bagi Skuadron Udara 12 TNI AU. Inilah wajah baru bandara Syarif Kasim II nantinya :







Setelah administrasi chek in selesai Pak Luqman, Pak Ghozali, dan Pak Mukhtar membagikan label group untuk di pasang di travel bag kami. Kami mulai memasuki bandara, tak lupa barang-barang masuk ke mesin pemeriksaan, kemudian bapak-bapak dengan sigap mengantrikan bagasi kami. Ibu-ibu langsung naik ke lantai 2 ruang tunggu bandara, setelah melalui pemeriksaan ulang untuk boarding. Pesawat kami mengalami tunda 30 menit karena hujan. Namun alhamdulillah akhirnya pada jam 17.30 kami ’terbang’ ke jakarta.

 Membelah ANGKASA dengan BATAVIA Air
Suasana ceria terasa di pesawat, kegembiraan para guru yang merasakan pengalaman terbang pertama kali dan kerinduan kami akan kampung jakarta. Sabuk pengaman mulai dikenakan, pramugara pun memberikan simulasi penggunaan pelampung, serta pintu darurat jika terjadi hal yang tidak diinginkan.
Hal ini mengingatkan saya bahwa dimanapun maut bisa menjemput, dimanapun dan kapanpun hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang. Lirih kami lantunkan dzikir al ma’sturat di angkasa, diantara awan putih dan pantulan sinar matahari. Subhanallah Alhamdulillah..Allahu Akbar.


 Pesona Bandara Internasional Sukarno Hatta Cengkareng
Waktu menunjukkan pukul 20.00, ketika pesawat kami akan mendarat di Bandara Internasional Soetta ( Soekarno Hatta ). Kerlip lampu-lampu di bawah terlihat indah berpendaran menghias malam. Kepadatan kota jakarta terlihat jelas dari atas. Kedatangan kami disambut dengan hujan gerimis, dengan berlari-lari kecil kami menuju terminal kedatangan. Bandara udara ini diberi nama Presiden pertama RI ( Soekarno ) dan wakil presidennya Muhammad hatta, digabung menjadi Soekarno Hatta.
Letal bandara ini 20 km barat jakarta, di Kota Tangerang Banten, memiliki luas 18 km2. Terdapat dua terminal utama : Terminal 1 untuk semua penerbangan domestik kecuali Garuda Indonesia dan Merpati Airline, dan Terminal 2 melayani semua penerbangan internasional. Setiap terminal dibagi menjadi 3 concourse. Terminal 1A melayani penerbangan Lion Air dan Wings Air. Terminal 1B melayani Sriwijaya dan kartika air, dan Terminal 1 C melayani pernebangan Batavia air dan citylink. Sedang terminal 2D dan 2F digunakan untuk semua penerbangan internasional.
Langkah kecil kami menapaki koridor bandara, bu wan yuli yang baru pertama kali ke jakarta dan terbang tak henti-hentinya bertanya. Dengan tersenyum simpul seperti guide saya jelaskan beberapa hal, termasuk kebingungannya mencari travel bag.
Saya katakan : ” Tenang bu yuli, Travel Bag kita aman kita antri untuk mengambilnya.” Bu yuli pun manggut-manggut sambil menggam tangan saya erat.
Sambil menunggu Bus yang sudah di sewa oleh panitia jakarta Kak Rosa datang, kami sempatkan untuk mengabadikan momen kebersamaan ini. Peace...




 Kebersamaan di Penginapan Padepokan Silat TMII
Bus yang membawa kami dari bandara memasuki pelataran Padepokan Silat TMII ( Taman Mini Indonesia Indah ). Penginapan kami berseberangan dengan Masjid At-Tin. Karena sudah larut malam kami langsung menuju kamar masing-masing. Bergantian menuju ke lantai 1 dengan lift penginapan. Kami menuju kamar 139.
Kamar penginapan cukup bersih dan nyaman, dengan 2 tempat tidur susun dan 1 tempat tidur single. Kamar ini bisa menampung 5 orang per kamar. Saya, Bu kun, Bu Dini, Bu yuli, dan si kecil yumni memulai malam kami dengan beristrahat di kamar yang nyaman. Bismika Allahumma Ahya wa amuut......

 Mentafakuri Jalanan di Jakarta
Tim Panitia mengingatkan kami bahwa agenda hari Jum’at pagi adalah ’bertamu’ ke gedung DPR. Untuk menghindari macet kami sudah harus siap pada jam 6 pagi. Akhirnya pagi-pagi sekali para guru sudah tampil fresh dengan seragam batik biru yang manis. Karena bus terlambat datang kami jadi punya waktu untuk berfoto ria dan berkeliling mengunjungi masjid At Tin..
Di atas Bus menuju Gedung DPR Pak Kadir memberikan penjelasan beberapa tempat yang kami lewati, bus kami bergerak ’merayap’ karena terjebak kemacetan jakarta diantara gedung-gedung tinggi menjulang. Di seberang jalan kami perhatikan ada mbak-mbak penjual jamu gendong sedang berjalan kaki, langkahnya lebih cepat dari Bus kami he he....
Waktu luang diatas Bus saya manfaatkan untuk menulis beberapa ide yang belum sempat terfikirkan, beberapa pekerjaan yang belum selesai. Maklum dihari-hari biasa kami sudah sangat sibuk mengurus kelas dan pelajaran.
Pokoknya perjalanan ini bisa menjadi tafakur buat kami..... buat orang lain macet itu membosankan, tapi buat saya macet adalah kesempatan untuk menulis atau membaca. Tak ada waktu yang terbuang....

 Menjadi Tamu Spesial di Gedung DPR RI Jakarta
Alhamdulillah Bus yang membawa kami memasuki pelataran parkir gedung DPR, diluar pagar tampak beberapa tenda pengungsi sepertinya sedang ada aksi demo dari beberapa pemuda ormas or mahasiswa. Gedung DPR/ MPR ini terletak di kompleks parlemen tempat bertemunya anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan rakyat.
Komplek parlemen ini terdiri dari Gedung Nusantara yang berbentuk kubah, Nusantara I dan Lokawirasabha setinggi 100 meter 24 lantai, Nusantara II, Nusantara III, Nusantara IV dan Nusantara V. Ditengah halaman ada air mancur. Komplek ini berada di kelurahan Gelora, kecamatan Tanah abang, jakpus.


Rombongan kami disambut oleh Tim Humas DPR yang diwakili oleh sosok manis Mbak Dewi. Kami memasuki ruangan audotorium mini yang dilengkapi dengan layar proyektor. Kabah Humas DPR Bp Suyitno dengan tersenyum ramah berbagi pengalaman dan cerita seputar aktivitas di Gedung DPR. Beliau menyampaikan bahwa media masa terlalu banyak menyoroti berita negatif para anggota dewan padahal sebenarnya banyak juga anggota dewan yang baik dan memang benar-benar bekerja untuk rakyat indonesia.
Semua anggota dewan yang ada adalah pilihan rakyat secara langsung melalui PEMILU dengan partai yang mereka pilih. Sehingga kadang rakyat sendiri tidak selektif, memilih bukan karena kemampuannya namun karena sosok yang terkenal atau bahkan yang memberikan dana atau materi. Beliau pun berharap guru bisa memberikan edukasi politik, tentang pentingnya memilih berdasar baiknya perilaku dan keahliannya.
Menanggapi paparan dari pak suyitno, saya ikut memberikan pendapat bahwa keadaan dimasyarakat bukan semata-mata salah pilih tapi memang kondisi mental dan moral masyarakat sendiri masih lemah, sehingga mudah untuk dibeli. Salah satu penyebabnya karena tingkat kemiskinan yang masih tinggi, terutama di pelosok daerah seperti siak. Peran serta pemerintah adalah bagaimana memberikan pelatihan atau bea siswa untuk meningkatkan wawasan dari para guru didaerah, agar lebih berkembang dan memiliki sudut pandang yang luas secara karakter dan wawasan kebangsaannya. Sehingga guru bisa menjadi sosok panutan di masyarakat yang mampu memberikan teladan tidak hanya buat murid-murid disekolah tapi juga masyarakatnya.
Setelah audensi di ruang auditorium rombongan dibawa berkeliling di museum DPR, banyak foto-foto pahlawan dan beberapa benda bersejarah. Kemudian ke ruang rapat paripurna, ruang yang digunakan untuk pelantikan anggota dewan. Kami pun berfoto bersama untuk kenang-kenangan, semoga anak didik kami bisa duduk disini menjadi anggota dewan yang sholeh, jujur, amanah dan cerdas. Aaamiin.






 Bertemu Hewan Menakjubkan di Gelanggang Samudra Taman Impian Jaya Ancol
Sudah pernah melihat lumba-lumba tepuk tangan? Kemudian menari dan bersalaman? Kami terkagum-kagum dengan kelihaian para pelatih hewan di gelanggang samudra. Bayangkan hewan saja bisa dilatih dan diarahkan, apalagi manusia??? Uppps...jadi teringat jika kami merasa ‘mentok’ ketika membina siswa yang lemah kognitifnya. Sabarrr...mungkin itu yang belum kami miliki.
Selain lumba-lumba dengan kepandaiannya, kami jg melihat ada burung bisa menari, mengambil bola dsb. Hewan-hewan tersebut dilatih dengan kesabaran. So sebagai guru kita harusnya lebih sabarrrrrrr.....malu deh sama pelatih lumba-lumba he he...

 Belajar sebuah kesederhanaan dan kebersihan di SMP 56 Jakarta
Sekolah itu berdiri kokoh ditengah pemukiman masyarakat, didepan gerbang kita langsung disambut oleh bangunan dengan bulan tsabit diatasnya. Subhanallah ada sekolah negeri yang didepannya langsung masjid menyambut kedatangan siapa saja. SMP ini adalah SMP 56 Jakarta. Konon dari banyak cerita sudah cukup sukses membiasakan lingkungan bersih dan pengelolaan sampah sendiri menjadi kompos.
Dan memang benar, kebetulan saya ingin sekali ke kamar mandi. Kamar mandinya sederhana namun bersih padahal hari sedang libur tapi para cleaning service tetap menjalankan tugasnya. Di sudut-sudut tampak tempat sampah yang sudah di kelompokkan menjadi sampah plastik, daun dan pecah belah.

Kami juga memasuki Lab Komputernya, dengan monitor layar datar dan jaringan komputer cukup standar untuk pembelajaran siswa. Sekolah ini juga memiliki lab sains yang rapi dan bersih, di dinding dalamnya ada papan tulis yang selalu tertuliskan informasi pembelajaran lab sains.

Koridor gedung banyak tulisan-tulisan pembangun semangat, di ruang depan menyambut kedatangan tampak dua lemari kaca besar yang berisi piala-piala dan satu lemari berisi karya siswa. Dengan begitu siapa saja yang bertandang ke sekolah ini bisa mengetahui prestasi dan karya siswa secara langsung.


 Menyisir Sejarah Bangsa di MONAS
Ketika tinggal di jakarta, saya sudah beberapa kali ke MONAS. Namun sekedar singgah saja, sekarang saya datang benar-benar untuk mempelajari sejarah bangsa ini. MONAS didirikan pada tahun 1959, namun baru diresmikan pada 17 Agustus 1961 oleh Presiden Soekarno. MONAS dibangun dengan ukuran tinggi 132 m, berbentuk lingga yoni yang semuanya terbuat dari Marmer. Saya pun memasuki MONAS melalui terowongan bawah tanah. Di bawah MONAS inilah terletak Museum Nasional yang menampilkan sejarah perjuangan bangsa indonesia, pada sisi museum terdapat 12 diaroma (jendela peragaan) yang menampilkan sejarah indonesia dari jaman kerajaan, nenek moyang hingga G30S PKI.
Kami pun antri untuk naik ke atas MONAS, disana kami bisa melihat kota jakarta dari atas. Di puncak MONAS terdapat cawan yang diatasnya terdapat lidah api dari perunggu yang tingginya 17 meter dengan diameter 6 meter dan berat 14, 5 ton. Lidah api tersebut dilapisi emas seberat 45 kg.
Subhanallah antrian untuk naik ke cawan MONAS sangat padat, terlihat mengiringi perjalanan kami tampak sepasang turis. Saya lihat turis tersebut tidak membawa guide dan jadi terdiam ditengah antrian, mungkin segan juga mau menyapa bingung bahasanya. Ketika di atas untuk melatih bahasa inggris saya kembali, saya pun menyapanya dengan pede. Alhamdulillah mereka paham bahasa saya he he. Mr Peter dan istrinya adalah kewarganegaraan swedia, suaminya bekerja di perusahaan swedia di bekasi. Kamipun berfoto bersama. Alhamdulillah citra seorang muslim dan warga indonesia adalah keramah tamahannya, semoga terkenang selalu....

 Persinggahan di rumah Allah ISTIQLAL
Masjid Istiqlal tidak jauh dari MONAS, masjid kebangsaan warga jakarta dan bangsa indonesia ini memang sangat strategis posisinya. Masjid IstiqlaI adalah masjid terbesar di asia tenggara, yang diprakarsai pembangunanya oleh presiden Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1951 dan selesai pada 22 Februari 1978 diresmikan oleh Presiden Soeharto. Desain Masjid dipilih dalam sayembara pembuatan maket masjid istiqlal, dan sebagai juaranya Frederich Silaban akhirnya terpilih menjadi arsiteknya. Nama masjid ‘Istiqlal’ artinya ‘Merdeka’, pembangunan masjid ini membawa pesan kebangsaan yang ingin disampaikan oleh para pejuang kita, bahwa letak kekuatan kemerdekaan bangsa ini ada pada aktivitas beribadah masyarakatnya.
Masjid Istiqlal mampu menampung lebih dari dua ratus ribu jemaah, dan memiliki kubah masjid dengan diameter 45 meter.

 Membangkitkan semangat Wira Usaha di Pasar Tanah Abang
Pasar tanah abang terletak di Jakarta Pusat. Terdapat pasar tekstil terbesar di Asian Tenggara, pasar ini sudah ada sejak Tahun 1753. Pada tahun 2003 sebagian kecil wilayah pasar tanah abang terbakar disebabkan karena kondisi pasar yang terlalu ramai dan motif politik.
Pasar Tanah Abang terbagi menjadi 3 wilayah gedung yang menjadi pusat perdagangan, Tanah Abang Metro, Tanah Abang Lama, dan Tanah Abang AURI.. Tanah Abang lama terbagi atas beberapa blok antara lain blok A, B, F (C, D, E belum dibangun) yang berisikan kios-kios, sedangkan Tanah Abang AURI terbagi atas beberapa blok antara lain blok A, B, C, D, E, F, AA, BB, CC. seluruh blok di Tanah Abang AURI merupakan kumpulan ruko yang umumnya menjual tekstil, kecuali blok E yang merupakan kumpulan kios-kios yang menjual pakaian dalam bentuk eceran ataupun grosir. Setiap hari pasar ini selalu ramai dikunjungi, sebagian besar oleh para pedagang retail yang belanja untuk dijual lagi di jakarta atau dikirim keluar jawa. Salah satu peluang yang bisa di lirik bapak ibu guru untuk berwira usaha.

 Menjumpai beragam Aplikasi Tekhnology di PPIPTEK TMII
Tekhnologi adalah basis pengetahuan, di musium PPIPTEK ini kami melihat bagaimana penerapan tekhnology dalam beberapa bidang ilmu. Dalam Musik, adanya kolaborasi teknology dengan alat musik angklung menghasilkan piano angklung. Dalam sains, menghasilkan alat pemantau cuaca dsb. Dalam transportasi menghasilkan pesawat terbang, mobil dsb. Banyak sekali...ini bisa membuka cakrawala berfikir kita bahwa dengan sentuhan tekhnology ilmu-ilmu tersebut lebih berkembang dan menghasilkan manfaat yang lebih optimal untuk kehidupan sehari-hari.

 Menyemai Cinta di Museum Bayt Al Qur’an
Kunjungan terakhir kami dalam perjalanan ini adalah Museum Bayt Al Qur’an TMII, terletak di sebelah kanan pintu masuk TMII. Memudahkan kita untuk mengunjunginya. Bayt Alqur’an artinya Rumah Al Qur’an disini kita akan jumpai karya para ulama dan intelektual muslim nusantara yang bernilai historis. Warisan budaya itu berupa mushaf, manuskrip Al Qur’an, arsitektur, seni rupa islami. Semua karya itu terpajang rapi pada lemari kaca di ruangan museum, disana ada beragam seni mushaf dari dalam dan luar negeri, seperti mushaf istiqlal, mushaf wonosobo, mushaf sundawi, mushaf malaysia dll. Ada juga mushaf standar Departemen Agama RI, dan Al Qur’an Braille untuk tuna netra. pada ruangan peraga sebelah kanan terletak gambar-gambar kaligrafi Al Qur’an yang indah dan mempunyai nilai seni tinggi karya dari anak negeri ini. Disana juga ada miniatur beberapa masjid besar, seperti Istiqlal, Masjid Demak bahkan Taj Mahal dari india.
Namun sayang tampaknya museum ini kurang terawat, pengunjungnya pun sangat minim. Para pengunjung lebih memilih mendatangi tempat-tempat hiburan dan edukasi. Mungkin salah satu penyebabnya karena kurangnya marketing dan program-program penunjang yang menarik agar masyarakat lebih mencintai semua hal yang berhubungan dengan Al Qur’an. Wallahu ‘alam bi shawab





 Asrinya Rumah Makan Raja Jasa Jalan Ampera
Makan siang kami kali ini sangat spesial, kami akan makan di restoran Raja Jasa dengan menu-menu pilihan yang menggiurkan. Rumah makan ini sangat asri dan sejuk, dibawah mengalir kolam dengan ikan hias warna warni. Restoran ini sangat marketable, dan laku. Mungkin karena menyajikan hidangan lezat dan suasana alam ditengah kota. Sebuah perpaduan yang sangat menjual. Mungkinkah kantin islamic bisa menjelma menjadi tempat makan sekaligus tempat untuk menyegarkan diri dengan nuansa alam? Insya allah....

 Reuni kecil pengerat silahturahmi
Senangnya bertemu dengan teman lama, guru-guru yang sudah ‘pulang kampung’ ke jakarta, seperti Bu Kulsum, Bu Susan, Bu Yatimah dan Bu Rini. Mereka menyempatkan diri untuk mengunjungi kami di penginapan. Subhanallah ikatan silahturahmi menjadi oase di tengah panasnya jakarta, apalagi jika tidak karena ‘cinta’ yang tertaut diantara kita. Perjalanan ke jakarta ini menjadi tambah sarat akan makna.






 Refleksi diri dari Perjalanan Siak- Jakarta
Alhamdulillah perjalanan ini walau singkat sangat bermanfaat buat saya. Semua berawal karena NIAT. Tergantung bagaimana niat kita memulai perjalanan ini. Karena dari awal saya menganggapnya sebagai AMANAH maka saya berusaha untuk berTANGGUNG JAWAB dengan apa yang akan saya dapatkan nantinya. Mungkin banyak rumor bahwa perjalanan ini adalah jalan-jalan semata, mungkin anggapan ini ada karena melihat dari kaca mata yang sempit. Kita bisa belajar dari mana saja, dan dari siapa saja. Sebuah perjalanan akan merefresh diri kita, sejenak bisa out of the box. Keluar dari zona keseharian kemudian mentelaah dan bertafakur selama perjalanan.
Saya sering membaca tulisan inspirasi mengajar dari beberapa guru di luar negeri. Begitu liburan mereka selalu melakukan perjalanan ke daerah dan negara lain untuk menambah wawasan dan pengalaman. Kita??? Karena keterbatasan dana kadang keinginan melakukan perjalanan harus kita alihkan menjadi hal yang lain. Untuk itu saya sangat bersyukur dan salut pada manajemen sekolah serta yayasan yang telah memfasilitasi.
Sungguh, saya melihat ketulusan para pejuang pendidikan kita disini untuk menyelenggarakan program ini. Yayasan yang sudah mensupport, Pak kadir walau sakit tapi tetap semangat bahkan beliau bersikeras menanamkan kedisiplinan pada kami. Pak Dan mengingatkan betul bahwa kami harus mampu belajar dengan dengan ilmu-ilmu yang tersebar di sepanjang perjalanan kami. Nizam yang mengawal kita sekeluarga. Pak Rasyid dan Bu Kun yang terus mendampingi. Rekan-rekan yang saling bahu membahu dan membangun kekompakan. Selama ini guru TK dan SD terpisah kegiatan dan gedung, namun dengan kegiatan ini subhanallah tambah rasa sayang diantara kami.
Guru memang harus berWAWASAN tidak KUPER atau TULALIT dengan Tekhnologi dan perkembangan pembangunan. Jakarta sudah membuka mata kita bahwa kita baru BELAJAR sedikit, kita harus belajar LEBIH BANYAK lagi dan menimba wawasan seluas-luasnya serta mengaplikasikan pada pembelajaran yang kreatif dan berkualitas. Aamiin

 Pengembangan diri dalam Aplikasi Pengajaran
Aplikasi saya dalam belajar dari perjalanan diri, saya menerapkan beberapa hal pada anak-anak :
1. Cerita wawasan umum
Sebelum mengajar saya beri oleh-oleh siswa dengan menceritakan beberapa tempat di jakarta. Terutama ketika briefing morning di kelas, anak-anak pun antusias dan mendapat pengalaman yang saya rasakan.
2. Wawasan Tekhnology
Pengalaman mengamati aplikasi tekhnology dalam beberapa bidang ilmu kami sampaikan ke siswa bahwa tekhnology tidak hanya komputer namun mencakup aspek yang lebih luas lagi.
3. Karya Tekhnology
Mungkin nanti bisa digagas link pelajaran dengan bidang studi sains ata yang lain bagaimana kita bisa membuat sesuatu alat dengan memasukkan konsep teknology modern ( ini bisa diterapkan ke bangku SMP )
4. Internalisasi Nilai Kebaikan
Dari perjalanan ini saya dapat beberapa hal yang bisa saya terapkan dalam diri saya :
1. Disiplin Waktu ( dimanapun dan kapanpun )
2. Membiasakan hidup BERSIH
3. Kebersamaan dan empati
4. Mensyukuri apapun yang Allah berikan
5. Optimis dan positif thinking
6. Mengajar dengan sungguh-sungguh dan sabar

 Rekomendasi dan saran untuk Manajemen Sekolah SD Sains Tahfizh
Untuk Manajemen di sekolah usul dan saran saya adalah :
1. Membudayakan lingkungan dan hidup BERSIH melakukan pembinaan yang intensif ke seluruh unsur pendukung di sekolah.
Contoh program : pengelolaan sampah kompos
Dan gerakan membuang sampah, disamping adalah gambar mesin pembuang sampah botol yang ada di MONAS
2. Membangun budaya cinta lingkungan, alam tumbuhan, dan hewan dengan adanya apotik hidup, ladang siswa, dan kolam ikan dsb
3. Menegakkan kedisplinan sekolah, dari kedatangan guru, siswa dan karyawan
4. Membangun kecintaan beribadah dengan sholat berjamaah bersama di masjid untuk semua guru dan karyawan.
5. Membangun kekompakan guru dan karyawan dengan kegiatan kebersamaan.
6. Membangun jiwa interpreneur pada guru dan siswa, aplikasi dari kemandirian dan pengolahan hasil belajar dan sumber daya alam.

 Rekomendasi dan saran untuk Yayasan Islamic Center
Sangat penting buat kita untuk memahami makna sebuah yayasan dalam satu institusi pendidikan. Yayasan menaungi dan mengayomi agar program yang ada dalam lembaga pendidikan berjalan dengan lancar. Untuk itu kordinasi dan komunikasi harus secara intensif di bina agar adanya keterpaduan tujuan pendidikan. Dalam hal ini rekomendasi saya dan saran untuk para pengurus di yayasan adalah :
1. Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan untuk menambah wawasan guru dalam hal pendidikan
2. Memberikan atau mengadakan program peningkatan keahlian untuk guru dengan menyertakan guru pada workshop atau bea siswa lanjut studi.
3. Membangun kebersamaan dalam ibadah dan aktivitas keseharian
4. Mendukung program-program kedisplinan untuk guru, siswa dan ikut mengaplikasikan pada aktivitas kerja karyawan di yayasan sehingga tercapai keterpaduan pendidikan.
5. Menciptakan budaya bersih, disiplin, amanah, dan ramah dalam pelayanan publik di sektor lembaga pendidikan dan aktivitas harian yayasan.
6. Optimis dan positif think membangun persaudaraan dengan seluruh lini yayasan, guru, karyawan dan memberikan pembinaan agar keteraturan kerja berjalan dengan maksimal.

 Closing
Demikian resume perjalanan ini kami sampaikan. Tak ada yang sempurna pada satu kegiatan, kekurangan selalu ada. Namun harapan kami, semoga tidak menjadikan kekurangan tersebut sebagai acuan bahwa program ini tidak berhasil.
Melihat dengan luas adalah cara yang bijak agar kita termasuk orang-orang yang selalu bisa memetik pelajaran dalam tiap detik waktu yang Allah berikan untuk kita.
Syukran katsiir atas kesempatan ini, semoga Allah meridloi langkah kita untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak negeri siak. Aamiin.
Siak, 2 Februari 2012
Anisa

Rabu, 19 Oktober 2011

Sejarah Idul Adha

Sejarah Idul Adha (Diambil Dari Kisah Nabi Ibrahim Dengan Anaknya Nabi Ismail)
oleh Mengenang Sejarah Kegemilangan Dan Kekelaman Islam pada 11 November 2010 jam 22:00

Pada suatu hari, Nabi Ibrahim AS menyembelih kurban fisabilillah berupa 1.000 ekor domba, 300 ekor sapi, dan 100 ekor unta. Banyak orang mengaguminya, bahkan para malaikat pun terkagum-kagum atas kurbannya.



“Kurban sejumlah itu bagiku belum apa-apa. Demi Allah! Seandainya aku memiliki anak lelaki, pasti akan aku sembelih karena Allah dan aku kurbankan kepada-Nya,” kata Nabi Ibrahim AS, sebagai ungkapan karena Sarah, istri Nabi Ibrahim belum juga mengandung.



Kemudian Sarah menyarankan Ibrahim agar menikahi Hajar, budaknya yang negro, yang diperoleh dari Mesir. Ketika berada di daerah Baitul Maqdis, beliau berdoa kepada Allah SWT agar dikaruniai seorang anak, dan doa beliau dikabulkan Allah SWT. Ada yang mengatakan saat itu usia Ibrahim mencapai 99 tahun. Dan karena demikian lamanya maka anak itu diberi nama Isma'il, artinya "Allah telah mendengar". Sebagai ungkapan kegembiraan karena akhirnya memiliki putra, seolah Ibrahim berseru: "Allah mendengar doaku".



Ketika usia Ismail menginjak kira-kira 7 tahun (ada pula yang berpendapat 13 tahun), pada malam tarwiyah, hari ke-8 di bulan Dzulhijjah, Nabi Ibrahim AS bermimpi ada seruan, “Hai Ibrahim! Penuhilah nazarmu (janjimu).”



Pagi harinya, beliau pun berpikir dan merenungkan arti mimpinya semalam. Apakah mimpi itu dari Allah SWT atau dari setan? Dari sinilah kemudian tanggal 8 Dzulhijah disebut sebagai hari tarwiyah (artinya, berpikir/merenung).



Pada malam ke-9 di bulan Dzulhijjah, beliau bermimpi sama dengan sebelumnya. Pagi harinya, beliau tahu dengan yakin mimpinya itu berasal dari Allah SWT. Dari sinilah hari ke-9 Dzulhijjah disebut dengan hari ‘Arafah (artinya mengetahui), dan bertepatan pula waktu itu beliau sedang berada di tanah Arafah.



Malam berikutnya lagi, beliau mimpi lagi dengan mimpi yang serupa. Maka, keesokan harinya, beliau bertekad untuk melaksanakan nazarnya (janjinya) itu. Karena itulah, hari itu disebut denga hari menyembelih kurban (yaumun nahr). Dalam riwayat lain dijelaskan, ketika Nabi Ibrahim AS bermimpi untuk yang pertama kalinya, maka beliau memilih domba-domba gemuk, sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang menyantapnya. Beliau mengira bahwa perintah dalam mimpi sudah terpenuhi. Untuk mimpi yang kedua kalinya, beliau memilih unta-unta gemuk sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang menyantapnya, dan beliau mengira perintah dalam mimpinya itu telah terpenuhi.



Pada mimpi untuk ketiga kalinya, seolah-olah ada yang menyeru, “Sesungguhnya Allah SWT memerintahkanmu agar menyembelih putramu, Ismail.” Beliau terbangun seketika, langsung memeluk Ismail dan menangis hingga waktu Shubuh tiba. Untuk melaksanakan perintah Allah SWT tersebut, beliau menemui istrinya terlebih dahulu, Hajar (ibu Ismail). Beliau berkata, “Dandanilah putramu dengan pakaian yang paling bagus, sebab ia akan kuajak untuk bertamu kepada Allah.” Hajar pun segera mendandani Ismail dengan pakaian paling bagus serta meminyaki dan menyisir rambutnya.



Kemudian beliau bersama putranya berangkat menuju ke suatu lembah di daerah Mina dengan membawa tali dan sebilah pedang. Pada saat itu, Iblis terkutuk sangat luar biasa sibuknya dan belum pernah sesibuk itu. Mondar-mandir ke sana ke mari. Ismail yang melihatnya segera mendekati ayahnya.



“Hai Ibrahim! Tidakkah kau perhatikan anakmu yang tampan dan lucu itu?” seru Iblis.



“Benar, namun aku diperintahkan untuk itu (menyembelihnya),” jawab Nabi Ibrahim AS.



Setelah gagal membujuk ayahnya, Iblsi pun datang menemui ibunya, Hajar. “Mengapa kau hanya duduk-duduk tenang saja, padahal suamimu membawa anakmu untuk disembelih?” goda Iblis.



“Kau jangan berdusta padaku, mana mungkin seorang ayah membunuh anaknya?” jawab Hajar.



“Mengapa ia membawa tali dan sebilah pedang, kalau bukan untuk menyembelih putranya?” rayu Iblis lagi.



“Untuk apa seorang ayah membunuh anaknya?” jawab Hajar balik bertanya.



“Ia menyangka bahwa Allah memerintahkannya untuk itu”, goda Iblis meyakinkannya.



“Seorang Nabi tidak akan ditugasi untuk berbuat kebatilan. Seandainya itu benar, nyawaku sendiri pun siap dikorbankan demi tugasnya yang mulia itu, apalagi hanya dengan mengurbankan nyawa anaku, hal itu belum berarti apa-apa!” jawab Hajar dengan mantap.



Iblis gagal untuk kedua kalinya, namun ia tetap berusaha untuk menggagalkan upaya penyembelihan Ismail itu. Maka, ia pun menghampiri Ismail seraya membujuknya, “Hai Isma’il! Mengapa kau hanya bermain-main dan bersenang-senang saja, padahal ayahmu mengajakmu ketempat ini hanya untk menyembelihmu. Lihat, ia membawa tali dan sebilah pedang,”



“Kau dusta, memangnya kenapa ayah harus menyembelih diriku?” jawab Ismail dengan heran. “Ayahmu menyangka bahwa Allah memerintahkannya untuk itu” kata Iblis meyakinkannya.



“Demi perintah Allah! Aku siap mendengar, patuh, dan melaksanakan dengan sepenuh jiwa ragaku,” jawab Ismail dengan mantap.



Ketika Iblis hendak merayu dan menggodanya dengan kata-kata lain, mendadak Ismail memungut sejumlah kerikil ditanah, dan langsung melemparkannya ke arah Iblis hingga butalah matanya sebelah kiri. Maka, Iblis pun pergi dengan tangan hampa. Dari sinilah kemudian dikenal dengan kewajiban untuk melempar kerikil (jumrah) dalam ritual ibadah haji.



Sesampainya di Mina, Nabi Ibrahim AS berterus terang kepada putranya, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?…” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102).



“Ia (Ismail) menjawab, ‘Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah! Kamu mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102).



Mendengar jawaban putranya, legalah Nabi Ibrahim AS dan langsung ber-tahmid (mengucapkan Alhamdulillâh) sebanyak-banyaknya.



Untuk melaksanakan tugas ayahnya itu Ismail berpesan kepada ayahnya, “Wahai ayahanda! Ikatlah tanganku agar aku tidak bergerak-gerak sehingga merepotkan. Telungkupkanlah wajahku agar tidak terlihat oleh ayah, sehingga tidak timbul rasa iba. Singsingkanlah lengan baju ayah agar tidak terkena percikan darah sedikitpun sehingga bisa mengurangi pahalaku, dan jika ibu melihatnya tentu akan turut berduka.”



“Tajamkanlah pedang dan goreskan segera dileherku ini agar lebih mudah dan cepat proses mautnya. Lalu bawalah pulang bajuku dan serahkan kepada agar ibu agar menjadi kenangan baginya, serta sampaikan pula salamku kepadanya dengan berkata, ‘Wahai ibu! Bersabarlah dalam melaksanakan perintah Allah.’ Terakhir, janganlah ayah mengajak anak-anak lain ke rumah ibu sehingga ibu sehingga semakin menambah belasungkawa padaku, dan ketika ayah melihat anak lain yang sebaya denganku, janganlah dipandang seksama sehingga menimbulka rasa sedih di hati ayah,” sambung Isma'il.



Setelah mendengar pesan-pesan putranya itu, Nabi Ibrahim AS menjawab, “Sebaik-baik kawan dalam melaksanakan perintah Allah SWT adalah kau, wahai putraku tercinta!”



Kemudian Nabi Ibrahim as menggoreskan pedangnya sekuat tenaga ke bagian leher putranya yang telah diikat tangan dan kakinya, namun beliau tak mampu menggoresnya.



Ismail berkata, “Wahai ayahanda! Lepaskan tali pengikat tangan dan kakiku ini agar aku tidak dinilai terpaksa dalam menjalankan perintah-Nya. Goreskan lagi ke leherku agar para malaikat megetahui bahwa diriku taat kepada Allah SWT dalam menjalan perintah semata-mata karena-Nya.”



Nabi Ibrahim as melepaskan ikatan tangan dan kaki putranya, lalu beliau hadapkan wajah anaknya ke bumi dan langsung menggoreskan pedangnya ke leher putranya dengan sekuat tenaganya, namun beliau masih juga tak mampu melakukannya karena pedangnya selalu terpental. Tak puas dengan kemampuanya, beliau menghujamkan pedangnya kearah sebuah batu, dan batu itu pun terbelah menjadi dua bagian. “Hai pedang! Kau dapat membelah batu, tapi mengapa kau tak mampu menembus daging?” gerutu beliau.



Atas izin Allah SWT, pedang menjawab, “Hai Ibrahim! Kau menghendaki untuk menyembelih, sedangkan Allah penguasa semesta alam berfirman, ‘jangan disembelih’. Jika begitu, kenapa aku harus menentang perintah Allah?”



Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagimu). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 106)



Menurut satu riwayat, bahwa Ismail diganti dengan seekor domba kibas yang dulu pernah dikurbankan oleh Habil dan selama itu domba itu hidup di surga. Malaikat Jibril datang membawa domba kibas itu dan ia masih sempat melihat Nabi Ibrahim AS menggoreskan pedangnya ke leher putranya. Dan pada saat itu juga semesta alam beserta seluruh isinya ber-takbir (Allâhu Akbar) mengagungkan kebesaran Allah SWT atas kesabaran kedua umat-Nya dalam menjalankan perintahnya. Melihat itu, malaikai Jibril terkagum-kagum lantas mengagungkan asma Allah, “Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar”. Nabi Ibrahim AS menyahut, “Lâ Ilâha Illallâhu wallâhu Akbar”. Ismail mengikutinya, “Allâhu Akbar wa lillâhil hamd”. Kemudian bacaan-bacaan tersebut dibaca pada setiap hari raya kurban (Idul Adha).



Sumber: Nasiruddin, S.Ag, MM, 2007, Kisah Orang-Orang Sabar, Republika, Jakarta

dengan beberapa perubahan



Selasa, 18 Oktober 2011

Ma'rifatullah

Ma'rifatullah
Oleh Syamsu Hilal

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?’ Tentu mereka akan menjawab, ‘Allah’. Maka betapakah mereka dapat dipalingkan dari jalan yang benar” (QS Al-Ankabut: 61).

Pada sebuah pertandingan bola voli antar-RT memperingati hari proklamasi di bilangan Mampang Jaksel, seorang penonton, sebut saja Nico, merasa jengkel melihat ulah seorang bapak setengah baya yang menyandera bola voli dengan cara mendudukinya. Karuan beberapa jenak pertandingan sempat terhenti. Bola voli itu disandera akibat smash salah seorang pemain di seberang net tepat mengenai tubuh bapak yang dikenal bernama Haji Mugni.

Panitia hanya diam saja. Melihat pemandangan itu, Nico yang baru sebulan tinggal di sebuah rumah kontrakan dekat lapangan bola voli, langsung mendekati Haji Mugni yang belum dikenalnya. Nico mengumpat kesal sembari merebut bola voli yang diduduki Haji Mugni, lalu melemparkannya ke tengah lapangan. Pertandingan voli dilanjutkan kembali. Haji Mugni diam saja. Panitia salut dengan keberanian Nico. Setelah kejadian itu, salah seorang panitia membisikkan sesuatu ke telinga Nico. Aneh. Wajah Nico langsung pucat. Selidik punya selidik, rupanya panitia itu baru saja memberi tahu bahwa orang yang bernama Haji Mugni itu adalah seorang jawara yang disegani.

Begitulah Nico, lantaran belum mengenal (ma’rifah) Haji Mugni ia berani menentang Haji Mugni. Tapi setelah diperkenalkan oleh seseorang, siapa sesungguhnya Haji Mugni, muncullah rasa takutnya. Sama halnya dengan seorang anak balita yang “berani” menyentuh api atau memegang kabel listrik bertegangan tinggi. Tindakan itu sama sekali bukan tindakan berani, tapi sekali lagi karena faktor ketidaktahuan.

Dalam Islam, orang-orang yang “berani” melanggar ketentuan Allah, apakah itu shalat, puasa, atau zakat, dalam beberapa kasus hal itu disebabkan lantaran mereka belum ma’rifah kepada Allah dalam arti sesungguhnya. Ini mirip dengan kisah orang-orang kafir Quraisy pada masa Rasulullah Saw. yang apabila ditanyakan kepada mereka siapa yang menurunkan hujan dari langit dan yang menumbuhkan pepohonan dari bumi, mereka akan menjawab Allah. Tapi, bila mereka diperintahkan untuk meng-Esa-kan Allah dan menjauhi penyembahan berhala, mereka akan mengatakan bahwa penyembahan berhala yang mereka lakukan adalah warisan budaya leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan.

Dalam Islam, mengenal Allah (ma’rifatullah) adalah persoalan penting dan wajib, karena hal ini menyangkut aqidah.

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada ilah melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi dosa orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tempat tinggalmu” (QS Muhammad: 19).

Dalam ayat ini, Allah Swt. menggunakan fi’il amr (kata kerja perintah) yang berarti wajib setiap Muslim untuk ma’rifah kepada Allah.

Kenal bukan hanya sekedar tahu. Kita tahu Bush Presiden Amerika Serikat, tapi kita baru kenal Bush setelah membaca dan melihat sepak terjangnya yang angkuh, arogan, hobi berperang, dan menindas umat Islam lewat televisi dan media cetak. Dari informasi-informasi tersebut, akhirnya kita menyimpulkan bahwa kezaliman Bush harus segera dihentikan. Inilah konsep ma’rifah yang sebenarnya. Ma’rifah adalah sebuah proses perpikir yang menghasilkan tindakan, baik berupa pernyataan maupun sikap.

Imam Ghazali menyatakan bahwa ma’rifah adalah sebuah tingkatan kecerdasan, yaitu mengumpulkan dua atau lebih informasi untuk menghasilkan sebuah kesimpulan. Dan dari kesimpulan itulah muncul tindakan atau sikap. Bukan ma’rifah namanya bila apa yang diketahuinya tidak menghasilkan tindakan. Seseorang yang mengaku mengenal Allah, tapi tidak menghasilkan ketundukkan, ketaatan, loyalitas, dan penghambaan kepada Allah, sesungguhnya dia berlum ma’rifah kepada Allah.

Seseorang yang sedang jatuh cinta akan selalu memikirkan kecantikan, kebaikan, kelembutan, dan keramahan kekasihnya. Memikirkan hal-hal semacam itu sudah cukup membahagiakan hatinya. Selain itu, ia pun akan selalu menjaga jangan sampai kekasihnya benci dan menjauhi dirinya. Oleh karenanya, ia akan selalu tampil baik, sopan, ramah, murah hati, dan lembut di depan kekasihnya. Kalaupun ia memiliki sifat buruk, maka di hadapan kekasihnya ia akan berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan sifat-sufat buruk tersebut. Orang yang tengah jatuh cinta, biasanya selalu berusaha untuk menyelami sifat dan hobi sang kekasih dan sedapat mungkin berusaha untuk mendekatkan diri dengan sifat dan hobi kekasihnya itu, meskipun sebenarnya sifat dan hobinya berbeda.

Seperti itulah seharusnya orang yang mengaku ma’rifah kepada Allah. Mari kita resapi sebuah teladan tentang ma’rifatullah seorang anak manusia. Ketika menuruni sebuah lembah, Umar bin Khaththab yang ditemani salah seorang sahabatnya bertemu dengan seorang anak yang tengah menggembalakan ratusan ekor kambing milik tuannya. Umar ingin menguji ma’rifatullah anak tersebut dengan medesaknya agar mau menjual seekor saja dari kambing gembalaannya. “Juallah kepadaku salah seekor kambing yang engkau gembalakan itu,” pinta Umar. “Aku tidak berhak menjualnya, karena kambing-kambing itu milik tuanku,” jawab si penggembala. “Katakan saja pada tuanmu bahwa salah seekor kambing hilang diterkam srigala,” uji Umar. Dengan tegas si penggembala berkata, “Aku bisa saja mengatakan salah seekor kambing milik tuanku hilang atau mati diterkam srigala. Mungkin ia akan mempercayai alasanku, tapi bagaimana dengan Allah? Bukankah Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui?” Mendengar jawaban itu, Umar menangis terharu. Lalu beliau membebaskan penggembala itu dengan cara menebusnya.

Perhatikanlah! Orang yang ma’rifah kepada Allah meyakini bahwa setiap gerak langkahnya, ucapannya, dan getaran hatinya selalu diawasi oleh Allah, karena Allah Maha Melihat dan Maha Mengawasi. Semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di malam kelam tak luput dari pengawasan-Nya. Sehelai daun kering yang jatuh dari pohonnya di tengah hutan belantara tak lepas dari perhitungan-Nya. Sebutir debu yang diterbangkan angin di tengah padang pasir yang luas ada dalam kuasa-Nya. Deburan ombak di tengah samudera ada dalam genggaman-Nya.

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan segala apa yang keluar daripadanya, dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadannya. Dan Dia besamamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa kamu kerjakan” (QS Al-Hadid: 4).

Dengan keyakinan seperti ini, mereka tidak berani melanggar perintah dan larangan Allah. Mereka tidak berani memakan harta yang bukan miliknya, mereka tidak berani berdusta, dan mereka tidak berani melangkah di luar garis yang telah ditetapkan oleh Allah. Setiap pelanggaran akan ada dosa, dan setiap dosa akan berujung pada siksa api neraka. Ma’rifatullah akan melahirkan rasa takut pada siksa Allah.

Renungkanlah! Orang yang mengenal Allah dengan pengenalan yang mendalam, yakin bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia, tapi sering tidak disadari oleh manusia. Kita sering memuji-muji indahnya pemandangan alam yang terhampar di depan mata, tapi kita jarang memuji Pemberi mata kita. Kita sering kagum mendengar suara gemercik air mengalir dari bebatuan, tapi jarang sekali kita mengagumi kepada Pencipta telinga kita. Kita sering merasakan nikmatnya aneka makanan yang disajikan, tapi kita lupa pada Pemberi lidah.

Apa yang akan kita rasakan seandainya Allah me-nonfungsi-kan mata kita? Bagaimana sekiranya Allah mencabut pendengaran kita? Dan apa yang kita rasakan bila Allah menghilangkan daya kecap lidah kita? Semua itu mudah bagi Allah. Dan kita dapat menanyakan hal itu kepada orang-orang yang telah kehilangan nikmat-nikmat tersebut.

Ma’rifatullah semestinya melahirkan rasa cinta dan ketergantungan kepada Allah. Ma’rifatullah seharusnya memunculkan berbagai macam harapan, kiranya Allah mempertahankan dan menambah semua nikmat dan karunia yang telah Ia berikan.

Ma’rifah kepada Allah dapat kita lakukan dengan cara memikirkan dan menganilisis semua ciptaan Allah di jagat raya ini. Rasulullah Saw. bersabda, “Tafakkaruu fi khalqillaah, walaa tafakkaruu fi dzatillaah.” Pikirkanlah ciptaan-ciptaan Allah, dan jangan pikirkan tentang Dzat Allah. Al-Qur`an banyak mendorong kita untuk mendayagunakan potensi akal kita untuk mengenal Allah.

“Kami telah memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur`an itu adalah benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS Fushshilat: 53).

Sementara itu, kebodohan (jahl), kesombongan (takabbur), penyimpangan, dan kezaliman adalah penyakit-penyakit yang dapat menghambat seseorang untuk ma’rifah kepada Allah. Jauhilah sifat-sifat tersebut. Semoga Allah menjernihkan hati dan pikiran kita dan menjauhkan diri kita dari penyakit-penyakit yang dapat menghambat proses ma’rifah kita kepada Allah. Wallahu a’lam bishshawab.


Ma'rifatullah
Oleh Syamsu Hilal

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?’ Tentu mereka akan menjawab, ‘Allah’. Maka betapakah mereka dapat dipalingkan dari jalan yang benar” (QS Al-Ankabut: 61).

pertandingan bola voli antar-RT
• Bola voli itu disandera akibat smash
• Haji Mugni.
• Nico yang baru sebulan tinggal
• panitia membisikkan
• belum mengenal (ma’rifah) Haji Mugni ia berani

 , orang-orang yang “berani” melanggar ketentuan Allah, apakah itu shalat
 kafir Quraisy pada masa Rasulullah Saw.
 menjawab Allah
 diperintahkan untuk meng-Esa-kan
 akan mengatakan bahwa warisan
 (ma’rifatullah) adalah persoalan penting dan wajib,
 “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada ilah melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi dosa orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tempat tinggalmu” (QS Muhammad: 19).

• menggunakan fi’il amr (kata kerja perintah) yang berarti wajib

Imam Ghazali
ma’rifah a
sebuah tingkatan kecerdasan
mengumpulkan dua atau lebih informasi
untuk menghasilkan sebuah kesimpulan
Dan dari kesimpulan itulah muncul tindakan atau sikap
Bukan ma’rifah
yang mengaku mengenal Allah
ketundukkan, ketaatan, loyalitas, dan penghambaan kepada Allah
dia berlum ma’rifah kepada Allah

Senin, 19 September 2011

Impian Seorang "Putri"


Berbagai angan kembali menghinggapi alam fikiran, tentang kisah romantis yang menggugah hati. Cinta memang selalu menjadi alasan, kenapa kita bertahan dan kenapa kita harus berjuang dalam kebersamaan. Cinta seperti mengalir dalam darah...memenuhi sel-sel otak kita.

Melihat film 'My Princess' ingatan saya kembali kemasa remaja dulu...selalu berangan ada pangeran datang menyelamatkan sang putri dan membawanya terbang ke angkasa. Pangeran yang gagah, sholeh, dan baik hati. Yang tak segan mengungkapkan cintanya, yang gigih berjuang untuk cintanya, yg sll terbuka dan hangat.

air mata ini jadi menitik haru, melihat betapa sayangnya mr park dengan lie soul. walau film my princess hanyalah sebuah drama kehidupan yang diciptakan. namun saya belajar...belajar untuk selalu menjaga cinta, merawat cinta.

Dulu ketika melihat suami pertama kali....sangat berwibawa, cool, tampan dan sholeh. Waktu itu aktivitas beliau masih disibukkan dengan dakwah, sekolah dan sll menympatkn diri untuk olahraga. Pun ketika datang melamar...saya merasa sayalah putri yang beruntung itu. mendapatkan pangeran nan gagah, dan sholeh. 7 tahun berselang, banyak peristiwa yg terjadi. perjuangan hidup yg cukup keras, membuat beliau tidak terlalu memikirkan kembali dg penampilannya. Perubahan yg membuat teman-teman lama 'kaget'. Akang yg dulu putih bersih dan tidak terlalu gemuk. Sekarang berubah menjadi agak gelap, gemuk, perut gendut, rambut jarang di potong, dan pakaian apa adanya.

Saya jadi khawatir....sayakah yang menyebabkan dirinya menjadi seperti ini??

Suamiku....apapun jadinya dirimu sekarang, ku kan selalu merawat cinta kita. mengingat sll betapa dulu kt saling mencintai dan kau sll bersikap romantis.

Akupun belajar seperti li soul, yang tak segan untuk berjuang akan cintanya, mengungkapkan sayangnya, serta merawat diri untuk selalu cantik. semoga.....
Aku ingin menciptakan donngeng cinta yang indah...untuk kita berdua, .....

Senin, 25 Juli 2011

Dilema Rumah Tangga

Dimanakah manisnya cinta? apakah masih bersarang di hati...menjadikannya sebagai landasan sebuah pernikahan. Benarkah hanya karena cinta, menjadi alasan untuk kita 'bertahan' dalam sebuah biduk yang bernama RUMAH TANGGA???

Lalu bagaimana kok pernikahan menjadi sebuah 'ancaman' bahkan siksaan...?? saya tak habis fikir. Kenapa suami bisa menjadi tidak sayang sama istrinya. Dulu..dikejar-kejar, diminta kepada orangtuanya dengan manis kata dan janji2 untuk menjaganya. Namun setelah aqad justru setelah berjanji kepada Allah utnuk melindungi istrinya..kemudian istrinya diterlantarkan secara batin...bahkan lahir

Kisah pertama....

Namanya Dahlia. Saya mengenalnya karena dahlia bergabung pada kelompok pengajian yang saya bina. Dahlia pindah dikota saya karena mengikuti suaminya yang lebih dulu tinggal disiak sebagai wiraswasta. Awalnya dahlia menikah dengan proses ta'aruf, jadi memang tidak begitu mengenal kepribadiannya. Namun karena referensi dari teman mengaji, Dahlia yakin dengan ksholehan calon suaminya tersebut.

Namun,...setelah dibawa ke kota S dahlia terkaget-kaget, dia tidak diperlakukan sebagai istri yang sebenarnya. sampai hampir 6 bulan pernikahannya, ternyata suaminya belum mau menyentuhnya. bahkan bersinggungan kulitpun suaminya langsung menghindar. Kata-kata suami yang diawal menikahinya lembut, ternyata sangat kasar dan suka mencaci maki. Dada dahlia sering berdegup kencang ketakutan mendengar kata-kata kasarnya. Memberi uang belanjapun dibatasi, bahkan kadang kurang. terkadang diberikan dengan dilempar.....
Dahlia merana...di kampung orang, tanpa saudara....dia diperlakukan semena-mena. Untungnya Dahlia punya teman mengaji. Selesai pengajian akhirnya Dahlia curhat sama saya.
Sayapun berkomunikasi dengan ustadz suaminya untuk mengklarifikasi hal ini. Akhirnya dahlia, dan suaminya dipertemukan untuk membahas masalah mereka dengan terbuka dutengahi oleh ust. AKhirnya dicapai kesepakatan bahwa suaminya akan berubah dan melaksanakan tugasnya secara lahir maupun batin.

3 bulan berselang......
Kembali Dahlia mendatangi saya...bahwa suaminya tak kunjung berubah. bahwa .....
kamipun kembali membahas masalah ini dengan ustadz. permasalahannya ada pada suami dahlia.

to be continued

Jumat, 13 Mei 2011

Zainab

Zainab binti Khuzaimah (wafat 1 H)

Nasab dan Masa Pertumbuhannya

Nama lengkap Zainab adalah Zainab binti Khuzaimah bin Haris bin Abdillah bin Amru bin Abdi Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah al-Hilaliyah. Ibunya bemama Hindun binti Auf bin Harits bin Hamathah.

Berdasarkan asal-usul keturunannya, dia termasuk keluarga yang dihormati dan disegani. Tanggal lahirnya tidak diketahui dengan pasti, namun ada riwayat yang rnenyebutkan bahwa dia lahir sebelum tahun ketiga belas kenabian. Sebelum memeluk Islam dia sudah dikenal dengan gelar Ummul Masakin (ibu orang-orang miskin) sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab Thabaqat ibnu Saad bahwa Zainab binti Khuzaimali bin Haris bin Abdillah bin Amru bin Abdi Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah al-Hilaliyah adalah Ummul-Masakin. Gclar tersebut disandangnya sejak masa jahiliah. Ath-Thabary, dalam kitab As-Samthus-Samin fi Manaqibi Ummahatil Mu’minin pun di terangkan bahwa Rasulullah. menikahinya sebelum beliau menikah dengan Maimunah, dan ketika itu dia sudah dikenal dengan sebutan Ummul-Masakin sejak zaman jahiliah. Berdasarkan hal itu dapat disimpulkan bahwa Zainab binti Khuzaimah terkenal dengan sifat kemurah-hatiannya, kedermawanannya, dan sifat santunnya terhadap orang-orang miskin yang dia utamakan daripada kepada dirinya sendiri. Sifat tersebut sudah tertanarn dalam dirinya sejak memeluk Islam walaupun pada saat itu dia belum mengetahui bahwa orang-orang yang baik, penyantun, dan penderma akan memperoleh pahala di sisi Allah.

Keislaman dan Pernikahannya

Zainab binti Khuzaimah. termasuk kelompok orang yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan wanita. Yang mendorongnya masuk Islam adalah akal dan pikirannya yang baik, menolak syirik dan penyembahan berhala dan selalu menjauhkan diri dari perbuatan jahiliah.

Para perawi berbeda pendapat tentang nama-nama suami pertama dan kedua sebelum dia menikah dengan Rasulullah. Sebagian perawi mengatakan bahwa suami pertama Zainab adalah Thufail bin Harits bin Abdil-Muththalib, yang kemudian menceraikannya. Dia menikah lagi dengan Ubaidah bin Harits, namun dia terbunuh pada Perang Badar atau Perang Uhud. Sebagian perawi mengatakan bahwa suami keduanya adalah Abdullah bin Jahsy. Sebenarnya masih banyak perawi yang mengemukakan pendapat yang berbeda-beda. Akan tetapi, dari berbagai pendapat itu, pendapat yang paling kuat adalah riwayat yang mengatakan bahwa suami pertamanya adalah Thufail bin Harits bin Abdil-Muththalib. Karena Zainab tidak dapat melahirkan (mandul), Thufail menceraikannya ketika mereka hijrah ke Madinah. Untuk mernuliakan Zainab, Ubaidah bin Harits (saudara laki-laki Thufail) menikahi Zainab. Sebagaimana kita ketahui, Ubaidah bin Harits adalah salah seorang prajurit penunggang kuda yang paling perkasa setelah Hamzah bin Abdul-Muththalib dan Ali bin Abi Thalib. Mereka bertiga ikut melawan orang-orang Quraisy dalam Perang Badar, dan akhirnya Ubaidah mati syahid dalam perang tersebut.

Setelah Ubaidah wafat, tidak ada riwayat yang menjelaskan tentang kehidupannya hingga Rasulullah . menikahinya. Rasulullah menikahi Zainab karena beliau ingin melindungi dan meringankan beban kehidupan yang dialaminya. Hati beliau menjadi luluh melihat Zainab hidup menjanda, sementara sejak kecil dia sudah dikenal dengan kelemah- lembutannya terhadap orang-orang miskin. Scbagai Rasul yang membawa rahmat bagi alam semesta, beliau rela mendahulukan kepentingan kaum muslimin, termasuk kepentingan Zainab. Beiau senantiasa memohon kepada Allah agar hidup miskin dan mati dalam keadaan miskin dan dikumpulkan di Padang Mahsyar bersama orangorang miskin.

Meskipun Nabi. mengingkari beberapa nama atau julukan yang dikenal pada zaman jahiliah, tetapi beiau tidak mengingkari julukan “ummul-masakin” yang disandang oleh Zainab binti Khuzaimah.

Menjadi Ummul-Mukminin

Tidak diketahui dengan pasti masuknya Zainab binti Khuzaimah ke dalam rumah tangga Nabi ., apakah sebelum Perang Uhud atau sesudahnya. Yang jelas, Rasulullah . menikahinya karena kasih sayang terhadap umamya walaupun wajah Zainab tidak begitu cantik dan tidak seorang pun dari kalangan sahabat yang bersedia menikahinya. Tentang lamanya Zainab berada dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah pun banyak tendapat perbedaan. Salah satu pendapat mengatakan bahwa Zainab memasuki rumah tangga Rasulullah selama tiga bulan, dan pendapat lain delapan bulan. Akan tetapi, yang pasti, prosesnya sangat singkat kanena Zainab meninggal semasa Rasulullah hidup. Di dalam kitab sirah pun tidak dijelaskan penyebab kematiannya. Zainab meninggal pada usia relatif muda, kurang dari tiga puluh tahun, dan Rasulullah yang menyalatinya. Allahu A’lam.

Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai Sayyidah Zainab binti Khuzaimah. dan semoga Allah memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.

Sumber: buku Dzaujatur-Rasulullah , karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh

Hidupnya bersama RasuluLlah, hanya singkat. Antara 4 sampai 8 bulan. Zainab terkenal dengan julukan Ummul Masaakiin, karena kedermawanannya terhadap kaum miskin. Zainab meninggal, ketika Rasulullah masih hidup. Dan Rasulullah sendiri menshalati jenazahnya. Zainablah yang pertama kali dimakamkan di Baqi.

Kisah ummu salamah

Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha

flowers01_800Ummu Salamah adalah seorang Ummul-Mukminin yang berkepribadian kuat, cantik, dan menawan, serta memiliki semangat jihad dan kesabaran dalam menghadapi cobaan, lebih-lebih setelah berpisah dengan suami dan anak-anaknya. Berkat kematangan berpikir dan ketepatan dalam mengambil keputusan, dia mendaparkan kedudukan mulia di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.. Di dalam sirah Ummahatul Mukminin dijelaskan tentang banyaknya sikap mulia dan peristiwa penting darinya yang dapat diteladani kaum muslimin, baik sikapnya sebagai istri yang selalu menjaga kehormatan keluarga maupun sebagai pejuang di jalan Allah.

Nama sebenarnya Ummu Salamah adalah Hindun binti Suhail, dikenal dengan narna Ummu Salamah. Beliau dibesarkan di lingkungan bangsawan dari Suku Quraisy. Ayahnya bernama Suhail bin Mughirah bin Makhzurn. Di kalangan kaumnya, Suhail dikenal sebagai seorang dermawan sehingga dijuluki Dzadur-Rakib (penjamu para musafir) karena dia selalu menjamu setiap orang yang menyertainya dalam perjalanan. Dia adalah pemimpin kaumnya, terkaya, dan terbesar wibawanya. Ibu dari Ummu Salamah bernama Atikah binti Amir bin Rabi’ah bin Malik bin Jazimah bin Alqamah al-Kananiyah yang berasal dari Bani Faras.


Demikianlah, Hindun dibesarkan di dalam lingkungan bangsawan yang dihormati dan disegani. Kecantikannya meluluhkan setiap orang yang melihatnya dan kebaikan pribadinya telah tertanam sejak kecil.

B. Pernikahan dan Perjuangannya

Banyak pemuda Mekah yang ingin mempersunting Hindun, dan yang berhasil menikahinya adalah Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, seorang penunggang kuda terkenal dari pahlawan-pahlawan suku Bani Quraisy yang gagah berani. Ibunya bernama Barrah binti Abdul-Muththalib bin Hasyim, bibi Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Abdullah adalah saudara sesusuan Nabi dari Tsuwaibah, budak Abu Lahab. Mereka hidup bahagia, dan rumah tangga mereka diliputi kerukunan dan kesejahteraan.

Tidak lama setelah itu, dakwah Islam menarik hati mereka sehingga mereka memeluk Islam dan menjadi orang-oramg pertama yang masuk Islam. Begitu pula dengan Hindun, dia tergolong orang-orang yang pertama masuk Islam, dan bersama suaminya memulai perjuangan dalam hidup mereka.

Orang-orang Quraisy selalu mengganggu dan menyiksa kaum muslimin agar mereka meninggalkan agama Islam dan kembali ke agama nenek moyang mereka. Melihat kondisi seperti itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. mengizinkan mereka untuk hijrah ke Habasyah, sehingga mereka disebut sebagai kaum muhajirin yang pertama. Mereka menetap di Habasyah, dan di sana Hindun melahirkan anak-anaknya: Zainab, Salamah, Umar, dan Durrah.

Setelah beberapa lama, mereka berniat kembali ke Mekah, terutama setelah mendengar keislaman dua tokoh penting Quraisy, Umar bin Khaththab dan Hamzah bin Abdul-Muththalib. Akan tetapi, ternyata penyiksaan masih terus berlangsung, bahkan bertambah dahsyat. Untuk menjaga kehormatan diri dan keluarganya, Abu Salamah meminta perlindungan dari Abu Thalib (paman Nabi) dari siksaan kaumnya, yaitu Bani Makhzum, dan Abu Thalib menyatakan perlindungannya.

C. Cobaan Datang

Karena orang-orang Quraisy masih saja menyiksa kaum muslimin, akhirnya Allah membuka hati penduduk Madinah untuk menerima Islam. Kemudian Rasulullah mengizinkan kaum muslimin untuk hijrah ke sana, baik secara kelompok maupun perseorangan. Abu Salamah, istri, dan anaknya (Salamah) hijrah ke sana. Di tengah perjalanan mereka dihadang oleh kaum Bani Makhzum (kaumnya Ummu Salamah) yang kemudian merampas serta menyandera Ummu Salamah. Keluarga Abu Salamah (Bani Asad) ikut campur tangan dan mereka menolak menyerahkan Salamah, bahkan si anak dirampas dan dijauhkan dari ibunya. Sedangkan Bani Makhzum menculik Ummu Salamah dan dipenjara. Adapun Abu Salamah dibiarkan ke Yatsrib dengan hati penuh kesedihan karena harus berpisah dengan istri dan anaknya.

Keadaan demikian berjalan kurang lebih setahun lamanya. Ummu Salamah terus-menerus menangis karena kecewa atas perbuatan kaumnya, sehingga akhirnya ada seorang laki-laki dari kaumnya yang merasa iba dan membiarkan Ummu Salamah menyusul suaminya di Madinah. Adapun Bani Asad menyerahkan kembali putranya, Salamah, kepadanya. Akan tetapi, banyak rintangan yang harus dia hadapi, dan berkat keimanan dan keinginan yang kuat, dia mampu mengatasi semua itu dan tiba di Madinah.

D. Pesan Abu Salamah untuk Istrinya

Dalam membela Islam, peran Abu Salamah sangat besar. Dia dikenal berani dalam berperang. Rasulullah menghargainya dengan mengangkatnya sebagai wakil Rasulullah di Madinah ketika beliau pergi memimpin pasukan dalam perang Dzil Asyirah pada tahun kedua hijriah. Abu Salamah ikut dalam Perang Badar dan Uhud. Ketika dalam perang Uhud, Abu Salamah mengalami luka yang cukup parah dan nyaris meninggal, namun beberapa saat kemudian dia sembuh.

Setelah Perang Uhud, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. mencrima berita bahwa Bani Asad hendak menyerang kaum muslimin di Madinah. Sebelum mereka menyerang, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. berinisiatif mendahului mereka. Dalam misi ini, beliau menunjuk Abu Salamah untuk memimpin pasukan yang berjumlah seratus lima puluh orang dan di dalamnya terdapat Saad bin Abi Waqash, Abu Ubaidah bin Jarrah, Amir bin Jarrah, dan yang lainnya. Pasukan diarahkan ke Bukit Quthn, tempat mata air Bani Asad. Kemenangan gemilang diraih oleh pasukan Abu Salamah, dan mereka kembali ke Madinah dengan membawa banyak harta rampasan perang. Di Madinah, luka-luka Abu Salamah karnbuh sehingga dia harus beristirahat beberapa waktu. Ketika sakit, Rasulullah selalu menjenguk dan mendoakannya.

Ummu Salamah selalu mendampingi suaminya yang sedang dalam keadaan sakit sehingga dia merawat dan menjaganya siang dan malam. Suatu hari, demam Abu Salamah menghebat, kemudian Ummu Salamah berkata kepada suaminya, “Aku mendapat benita bahwa seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya, kemudian suaminya masuk surga, istrinya pun akan masuk surga, jika setelah itu istrinya tidak menikah lagi, dan Allah akan mengumpulkan mereka nanti di surga. Demikian pula jika si istri yang meninggal, dan suaminya tidak menikah lagi sepeninggalnya. Untuk itu, mari kita berjanji bahwa engkau tidak akan menikah lagi sepeninggalku, dan aku berjanji untukmu untuk tidak menikah lagi sepeninggalmu.” Abu Salamah berkata, “Maukah engkau menaati perintahku?” Dia menjawab, “Adapun saya bermusyawarah hanya untuk taat.” Abu Salamah berkata, “Seandainya aku mati, maka menikahlah.” Lalu dia berdoa kepada Allah ”Ya Allah, kurniakanlah kepada Ummu Salamah sesudahku seseorang yang lebih baik dariku, yang tidak akan menyengsarakan dan menyakitinya.”

Pada detik-detik akhir hidupnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. selalu berada di samping Abu Salamah dan senantiasa memohon kesembuhannya kepada Allah. Akan tetapi, Allah berkehendak lain. Beberapa saat kemudian maut datang menjemput. Rasulullah menutupkan kedua mata Abu Salamah dengan tangannya yang mulia dan bertakbir sembilan kali. Di antara yang hadir ada yang berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau sedang dalam keadaan lupa?” Beliau menjawab, “Aku sama sekali tidak dalam keadaan lupa, sekalipun bertakbir untuknya seribu kali, dia berhak atas takbir itu.” Kemudian beliau menoleh kepada Ummu Salamah dan bersabda, “Barang siapa yang ditimpa suatu musibah, maka ucapkanlah sebagaimana yang telah dperintahkan oleh Allah, ‘Sesungguhnya kita milik Allah, dan kepada-Nyalah kita akan dikembalikan. Ya Allah, karuniakanlah bagiku dalam musibahku dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya, maka Allah akan melaksanakannya untuknya.”

Setelah itu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. berdo’a: “Ya Allah, berilah ketabahan atas kesedihannya, hiburlah dia dari musibah yang menimpanya, dan berilah pengganti yang lebih baik untuknya.”

Abu Salamah wafat setelah berjuang menegakkan Islam, dan dia telah memperoleh kedudukan yang mulia di sisi Rasulullah. Sepeninggal Abu Salamah, Ummu Salarnah diliputi rasa sedih. Dia menjadi janda dan ibu bagi anak-anak yatim.

Setelah wafatnya Abu Salarnah, para pemuka dari kalangan sahabat bersegera meminang Ummu Salamah. Hal ini mereka lakukan sebagai tanda penghormatan terhadapat suaminya dan untuk. melindungi diri Ummu Salamah. Maka Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab meminangnya, tetapi Ummu Salamah menolaknya.

Pada saat dirundung kesedihan atas suami yang benar-benar dicintainya serta belum mendapatkan orang yang lebih baik darinya, ia didatangi oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. dengan maksud menghiburnya dan meringankan apa yang dialaminya. Rasulullah berkata kepadanya, “Mintalah kepada Allah agar Dia memberimu pahala pada musibahmu serta menggantikan untukmu (suami) yang lebih baik.” Ummu Salamah bertanya, “Siapa yang lebih baik dan Abu Salamah, wahai Rasulullah?”

E. Di Rumah Rasulullah.

Rasulullah mulai memikirkan perkara Ummu Salamah, seorang mukminah mujahidah yang memiliki kesabaran, dan Ummu Salamah pun telah menolak lamaran dua sahabatnya, Abu Bakar dan Umar. Rasulullah pun berpikir dengan penuh pertimbangan dan kasih sayang untuk tidak membiarkannya larut dalam kesedihan dan kesendirian.

Dalam keadaan seperti itu Rasulullah mengutus Hathib bin Abi Balta’ah menemui Ummu Salarnah dengan maksud meminangnya untuk beliau. Maka oleh Ummu Salamah diterimanya pinangan tersebut. Bagaimana mungkin baginya untuk tidak menerima pinangan dari orang yang lebih baik dari Abu Salamah, bahkan lebih baik dan semua orang di dunia.

Dengan perkawinan tersebut maka Ummu Salamah termasuk kalangan Ummahatul- Mukminin, dan oleh Rasulullah ia ditempatkan di kamar Zainab binti Khuzaimah yang digelari Ummul-Masakiin (ibu bagi orang-orang miskin) sampai Ummu Salamah meninggal dunia.

Hal itu diceritakan oleh Ummu Salamah kepada kami. Ia berkata, “Aku dipersunting oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam., lalu aku dipindahkan dan ditempatkan di rumah Zainab (ummul- masakiin).”

Beberapa keistimewaan yang dimiliki Ummu Salamah adalah ketajaman logika, kematangan berpikir, dan keputusan yang benar atas banyak perkara. Karena itu, ia memiliki kedudukan yang agung di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam., seperti interaksinya dengan para Ummahatul-Mukminin yang merupakan interaksi yang diliputi rasa kasih sayang dan kelemahlembutan.

F. Kedudukannya yang Agung

Di antara perkara yang menunjukkan kedudukannya yang tinggi di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam adalah apa yang diceritakan Urwah bin Zubair “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. menyuruh Ummu Salamah melaksanakan shalat shubuh di Mekah pada hari penyembelihan (qurban) — padahal saat itu merupakan hari (giliran)nya. Oleh sebab itu, Rasulullah merasa senang atas kesetujuannya.”

Begitu juga hadits Ummi Kulsum binti Uqbah yang dimasukkan oleh Ibnu Sa’ad dalam (kitab) Thabaqat-nya. Ummi Kultsum berkata, “Tatkala Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. menikahi Ummu Salamah, belau berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya aku menghadiahkan untuk Raja Najasyi sejumlah bejana berisikan minyak wangi dan selimut. Akan tetapi, aku bermimpi bahwa Raja Najasyi itu telah meninggal dunia, kemudian hadiah yang kuberikan kepadanya dikembalikan kepadaku. Karena dikembalikan kepadaku, maka barang tersebut menjadi milikkü.”

Sebagaimana yang dikatakan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam., Raja Najasyi meninggal dunia, dan hadiah tersebut dikembalikan kepadanya. Lalu beliau memberikan kepada setiap istrinya masing-masing satu uqiyah (1/2 liter Mesir) dan beliau memberi (sisa) keseluruhannya serta selimut kepada Ummu Salamah.

Setelah Ummu Salamah menjadi istrinya, Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. memasukkannya dalam kalangan ahlul-bait. Di antara riwayat tentang masalah tersebut adalah bahwasanya pernah pada suatu hari Rasulullah berada di sisi Ummu Salamah, dan anak perempuan Ummu Salamah ada di sana. Rasulullah kemudian didatangi anak perempuannya, Fathimah azZahra, disertai kedua anaknya, Hasan dan Husain r.a., lalu Rasullah memeluk Fathimah dan berkata, “Semoga rahmat Allah dan berkah-Nya tercurah pada kalian wahai ahlul-bait. Sesungguhnya Dia Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.”

Lalu menangislah Ummu Salamah. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. menanyakan tentang penyebab tangisnya itu. Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, engkau mengistimewakan mereka sedangkan aku dan anak perempuanku engkau tinggalkan. Beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau dan anak perempuanmu termasuk keluargaku.”

Anak perempuan Ummu Salamah, Zainab, tumbuh dalam peliharaan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. ia termasuk di antara wanita yang memiliki ilmu yang luas pada masanya.

Sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. mempersunting Ummu Salamah, wahyu pernah turun kepada Rasulullah di kamar Aisyah, yang dengan hal itu Aisyah membanggakannya pada istri-stri beliau yang lain. Maka setelah Rasulullah menikahi Ummu Salamah, wahyu turun kepadanya ketika beliau berada di kamar Ummu Salamah.

G. Beberapa Sikap Cemerlang pada Masa Hidup Ummu Salamah.

Di antara sikap agungnya adalah apa yang ditunjukkannya pada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. pada hari (perjanjian) Hudaibiyah. Pada waktu itu ia menyertai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. dalam perjalanannya menuju Mekah dengan tujuan menunaikan umrah, tetapi orang-orang musyrik mencegah mereka untuk memasuki Mekah, dan terjadilah Perjanjian Hudaibiyah antara kedua belah pihak.

Akan tetapi, sebagian besar kaum muslimin merasa dikhianati dan merasa bahwa orang-orang musyrik menyianyiakan sejumlah hak-hak kaum muslimin. Di antara mayonitas yang menaruh dendam itu adalah Umar bin al-Khaththab, yang berkata kepada Rasulullah dalam percakapannya dengan beliau, “Atas perkara apa kita serahkan nyawa di dalam agama kita?” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. menjawab, “Saya adalah hamba Allah dan rasul-Nya. Aku tidak akan menyalahi perintah-Nya, dan Dia tidak akan menyianyiakanku.”

Akan tetapi, tanda-tanda bahaya semakin memuncak setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. menyuruh kaum muslimin melaksanakan penyembelihan hewan qurban kemudian bercukur, tetapi tidak seorang pun dari mereka melaksanakannya. Beliau mengulang seruannya tiga kali tanpa ada sambutan.

Beliau menemui istrinya, Ummu Salamah, dan menceritakan kepadanya tentang sikap kaum muslimin. Ummu Salamah berkata, “Wahai Nabi Allah, apakah engkau menginginkan perintah Allah ini dilaksanakan oleh kaum muslimin? Keluarlah engkau, kemudian janganlah mengajak bicara sepatah kata seorang pun dari mereka sampai engkau menyembelih qurbanmu serta memanggil tukang cukur yang mencukurmu.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. kagum atas pendapatnya dan bangkit mengerjakan sebagaimana yang diusulkan Ummu Salamah. Tatkala kaum muslimin melihat Rasulullah mengerjakan hal itu tanpa berkata kepada mereka, mereka bangkit dan menyembelih serta sebagian dari mereka mulai mencukur kepala sebagian yang lain tanpa ada perasaan keluh kesah dan penyesalan atas tindakan Rasulullah yang mendahului mereka.

Ummu Salamah telah menyertai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. di banyak peperangan, yaitu peperangan Khaibar, Pembebasan Mekah, pengepungan Tha’if, peperangan Hawazin, Tsaqif kemudian ikut bersama beliau di Haji Wada’.

Kita tidak melupakan sikapnya terhadap Umar bin al-Khaththab, tatkala Urnar datang kepadanya dan mengajak bicara tentang perkara keperluan Ummahatul-Mukminin kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. serta kekasaran mereka terhadap Rasulullah. Maka ia berkata, “Engkau ini aneh, wahai anak al-Khaththab. Engkau telah ikut campur di setiap perkara sehingga ingin mencampuri urusan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. beserta istri-istrinya?”

Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. meninggal dunia ia senantiasa mengenang beliau dan sangat berduka cita atas kewafatannya. Beliau senantiasa banyak melakukan puasa dan beribadah, tidak kikir pada ilmu, serta meriwayatkan hadits yang berasal dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.

Telah diriwayatkannya sekian banyak hadits shahih yang bersumber dari Rasulullah dan suaminya, Abu Salamah, serta dari Fathimah az-Zahraa Sedangkan orang yang meriwayatkan darinya banyak sekali, di antara mereka adalah anak-anaknya dan para pemuka dan sahabat serta ahli hadits.

Di antara beberapa sikapnya yang nyata adalah pada hari pembebasan kota Mekah. Waktu itu Nabi keluar dari Madinah bersarna bala tentaranya dengan kehebatan dan jumlah yang belum pernah disaksikan oleh bangsa Arab, sehingga orang-orang musyrik Quraisy merasa takut, dan mereka keluar dari rumah dengan rnaksud menemui Rasulullah untuk bertobat dan menyatakan keislaman mereka.

Termasuk dari mereka, Abu Sufyan bin al-Harts bin Abdul-Muththalib (anak paman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.) dan Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughirah (anak bibi [dari ayah] Rasulullah, saudara Ummu Salamah sebapak). Ketika mereka berdua meminta izin masuk menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam., beliau enggan memberi izin masuk bagi keduanya disebabkan penyiksaan mereka yang keras terhadap kaurn muslimin menjelang beliau hijrah dari Mekah.

Maka berkatalah Ummu Salamah kepada Rasulullah dengan perasaan iba terhadap keluarganya sendiri dan juga keluarga Rasulullah, “Wahai Rasulullah, mereka berdua adalah anak parnanmu dan anak bibirnu (dan ayah) serta iparmu.” Rasulullah menjawab, “Tidak ada keperluan bagiku dengan mereka berdua. Adapun anak parnanku, aku telah diperlakukan olehnya dengan tidak baik. Adapun anak bibiku (dari ayah) serta iparku telah berkata di Mekah dengan apa yang ia katakan.”

Pernyataan itu telah sampai kepada Abu Sufyan, anak paman Rasulullah. Maka ia berkata, “Demi Allah, ia harus mengizinkanku atau aku mengambil anak ini dengan kedua tanganku -pada saat itu ia bersama anaknya, Ja’far- kemudian karni harus berkelana di dunia sehingga mati kehausan dan kelaparan.”

Lalu Ummu Salamah memberitahukan perkataan Abu Sufyan tersebut kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. dengan kembali memohon rasa belas kasih. Akhirnya hati beliau menjadi luluh, lalu mengizinkan keduanya masuk. Maka masuklah keduanya dan menyatakan keislaman serta bertobat di hadapan Rasulullah.

H. Sikapnya terhadap Fitnah

Ummu Salamah selalu berada di rumahnya, senantiasa ikhlas beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menjaga Sunnah suaminya tercinta pada masa (khilafah) Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab..

Pada masa khilafah Utsman bin Affan ia melihat kegoncangan situasi serta perpecahan kaum muslimin di seputar khalifah. Bahaya fitnah sernakin memuncak di langit kaum muslirnin. Maka ia pergi menernui Utsman dan menasihatinya supaya tetap berpegang teguh pada petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. serta petunjuk Abu Bakar dan Umar bin al-Khaththab, tidak menyimpang dan petunjuk tersebut selama-lamanya.

Apa yang dikhawatirkan Ummu Salamah terjadi juga, yaitu peristiwa terbunuhnya Utsman yang saat itu tengah membaca Al-Qur’an dan angin fitnah tengah bertiup kencang terhadap kaurn muslimin. Pada saat itu Aisyah telah membulatkan tekad untuk keluar menuju Bashrah disertai Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin al-’Awwam dengan tujuan mernobilisasi massa untuk melawan Ali bin Abi Thalib. Maka Ummu Salamah mengirim surat yang memiliki sastra indah kepada Aisyah.

“Dari Ummu Salamah, Istri Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam., untuk Aisyah Ummul-Mu’ minin.
Sesungguhnya aku memuji Allah yang tidak ada ilah (Tuhan) melainkan Dia.
Amma ba’du.
Engkau sungguh telah merobek pembatas antara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. dan umatnya yang merupakan hijab yang telah ditetapkan keharamannya.
Sungguh Al-Qur’an telah memberimu kemuliaan, maka jangan engkau lepaskan. Dan Allah telah menahan suaramu, maka janganlah engkau niengeluarkannya Serta Allah telah tegaskan bagi umat ini seandainya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. mengetahui bahwa kaum wanita memiliki kewajiban jihad (berperang) niscaya beliau berpesan kepadamu untuk menjaganya.
Tidakkah engkau tahu bahwasanya beliau melarangmu melampaui batas dalam agama, karena sesungguhnya tiang agama tidak bisa kokoh dengan campur tangan wanita apabila tiang itu telah miring, dan tidak bisa diperbaiki oleh wanita apabila telah hancur. Jihad wanita adalah tunduk kepada segala ketentuan, mengasuh anak, dan mencurahkan kasih sayangnya.”

Ummu Salamah berada di pihak Ali bin Abi Thalib karena beliau menggikuti kesepakatan kaum muslimin atas terpilihnya beliau sebagai khalifah mereka. Karena itu, Ummu Salamah mengirim/mengutus anaknya, Umar, untuk ikut berperang dalan barisan Ali .

I. Saat Wafatnya

Pada tahun ke-59 hijriah, usia Ummu Salamah telah mencapai 84 tahun. Usia tua dan pikun merambah di pertambahan umurnya. Allah ta’ala mengangkat rohnya yang suci naik ke atas menuju hadirat-Nya. Ia meninggal dunia setelah hidup dengan aktivitas yang dipenuhi oleh pengorbanan, jihad, dan kesabaran di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Beliau dishalatkan oleh Abu Hurairah r.a. dan dikuburkan di al-Baqi’ di samping kuburan Ummahatul-Mukminin lainnya.

Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai Sayyidah Ummu Salamah. dan semoga Allah memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.

Sumber: Buku Dzaujatur-Rasulullah , Karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh